
Menulis itu menyenangkan, menulis itu candu..
Menulis itu bermain.. menulis itu eksistensi..
Menulis itu aktualisasi.. menulis adalah konkretisasi dari sebuah abstrak bernama ‘Ifah’.
Pemaksaan konkretisasi, tepatnya.
Maka jangan paksakan saya untuk menulis bait-bait konkret berupa tulisan ilmiah berpanjang-panjang disertai argumen-argumen komprehensif nan datar, tanpa ada dorongan abstrakisme terlebih dahulu yang berkeliaran dalam benak saya..
Maka jangan harap anda akan mendapati sekian puluh paragraf tulisan saya yang di dalamnya pure tanpa opini, tanpa emosi, tanpa tendensi. Sebab sebagaimana emosi itu abstrak (nyatanya paruh melancholy yang menimpa saya adalah rasa, bukan sistematis, bukan linier, bukan apapun yang serba perfect..), bentuk tuangannya pun serba abstrak..
Menulis adalah berkaca, bercermin„ melihat wajah kita sesungguhnya, bahkan bagi mereka yang tak pandai menulis pun adalah sebuah pembuktian akan karakternya yang lain, akan bentukan dirinya..
Menulis adalah mengenali, menyayangi, dan membina diri.. agar apa-apa yang dikaruniakan-Nya tidak tercecar abstrak dalam pergumulan-pergumulan benak yang semu tanpa manfaat.
Maka, menulis adalah berbagi.. berbagi manfaat, berbagi ilmu, berbagi jiwa, berbagi rasa.. berbagi beban..
Menulis adalah awal dari rangkaian pembuktian.. agar integritas kita tak separuh-paruh berjalan dalam untaian huruf-kata-kalimat.. tapi juga dalam langkah-langkah amal perbuatan..
Pada akhirnya..
Menulis itu.. belajar.
Sebagaimana hidup adalah sebuah pembelajaran..
Maka menulis adalah kehidupan.